Januari 28, 2009

Bagaimana caranya dua sejoli calon pengantin saling mengenal pandangan hidup masing-masing sebelum melangkah ke pelaminan?
Menikah adalah sebuah pekerjaan besar, penting dan mulia. Penting bagi kemanusiaan, penting bagi orang yang bersangkutan, dan masyarakatnya. Namun bagi dua insan yang akan bersatu menyatukan pandangan merupakan tugas yang harus mereka selesaikan sebelum melangkah ke pelaminan agar pernikahan mereka bermanfaat bagi diri mereka sendiri, keluarga maupun masyarakatnya. Sebuah keluarga berantakan tak dapat menjadi pelita bagi keluarga-keluarga lain disekitar mereka.
Banyak pasangan pra-nikah (baca:pacaran) yang beralasan bahwa memperpanjang hubungan sebelum menikah merupakan cara untuk saling mengenal. Namun pada kenyataannya, pacaran bertahun-tahun tidak menghalangi mereka kemudian bercerai setelah menikah beberapa tahun. Ada apa? Apa yang salah?
Pacaran jelas bukan jalan bagi para pemuda muslim untuk mencari keberkahan dari Allah SWT. Hubungan pranikah yang dibenarkan dalam Islam namanya ”ta’aruf” atau proses ”saling berkenalan”. Dalam ”ta’aruf” ini, kedua calon pasangan boleh berinteraksi, namun harus tetap dalam batas-batas aturan pergaulan Islami, termasuk tidak boleh berdua-duaan tanpa orang ketiga, tak boleh bersentuhan dan apalagi yang lebih dari itu.
Dalam berpacaran, batas-batas tersebut tak ada sehingga tidak jarang dua sejoli yang belum menikah menjadi kebablasan dalam berhubungan. Mirisnya, kebablasan itu terjadi bahkan sebelum kesatuan pandangan antara keduanya terbentuk dengan matang.
Kerugian lain dari pacaran adalah karena dilandasi berbagai aroma romantisme, suasana dialog yang lebih rasional menjadi sulit terbentuk sehingga berbagai masalah serius menjadi sulit dibicarakan tanpa dibumbui romantisme yang seringkali malah mengelabui keadaan yang sebenarnya. Bahkan demi romantisme, tidak jarang masing-masing pihak berusaha menutup-nutupi sifat-sifat aslinya.
Jadi apa yang penting dilakukan dalam proses ”ta’aruf” ini? Nabi Muhammad SAW menyebutkan tiga alasan mengapa seorang wanita dipilih sebagai istri dan hanya satu alasan yang dianjurkan untuk diambil, yaitu kebagusan agamanya.
Meskipun arahan Nabi SAW terlihat sangat umum, namun memang itulah ”platform” yang paling penting bagi calon suami maupun istri. Dengan agama, segala perbedaan pendapat dapat antara suami istri Insya Allah dapat diselesaikan sebab Islam sudah menyediakan jawaban persoalan dengan cukup rinci, asalkan keduanya memiliki komitmen yang sama untuk menyelesaikan masalah dan memang masih berkeinginan untuk bersama.
Masalahnya adalah bagaimana mengenali kesamaan komitmen ini? Bagaimana mengangkatnya dalam pembicaraan dengan calon pasangan?
Pepatah mengatakan: ”tak kenal maka tak sayang”. Ada juga istilah ”jangan beli kucing dalam karung”. Kedua ungkapan ini benar adanya. Proses ”ta’aruf” memang dimaksudkan untuk saling mengenal satu sama lain, terutama untuk hal-hal yang penting.
Banyak pasangan calon suami istri yang mengabaikan detil-detil penting dalam berkenalan dan lebih mementingkan hal-hal yang lebih bersifat permukaan, misalnya aspek wajah, kecantikan, kegantengan, warna kulit, tinggi badan, dan lain-lain termasuk kekayaan. Padahal semua itu hanyalah ’sedalam kulit’ dalam arti sebenarnya.
Apa yang hanya sebatas sedalam kulit akan mudah berubah atau berganti, sedangkan kedalaman berpikir dan keimanan akan melandasi semua yang dipikirkan dan dilakukan oleh seseorang sepanjang hayatnya.
Jika kita harus berinteraksi dengan seseorang untuk jangka waktu yang lama, jika kita akan melalui masa senang dan sulit bersama-sama, maka kecantikan atau kegantengan tak terlalu penting, sifat dan sikapnyalah yang akan membuat kita betah atau tidak.
Berikut ini ada beberapa poin yang perlu anda perhatikan:
Pertama, kenalilah calon pasangan anda. Apakah ia seorang yang memiliki komitmen terhadap agamanya? Apakah ia konsisten menjalankannya? Apakah ia selalu memperdalam pengetahuan agamanya? Apakah ia siap berubah sesuai arahan NabiNya SAW?
Kedua, amati bagaimana caranya mengatasi masalah hidup. Apakah ia mencari arahan dari Al Qur’an atau Sunnah Nabi SAW? Apakah ia cukup sabar dan tidak mengeluh dan menyalahkan nasib?
Ketiga, kenali bagaimana calon anda dalam menghadapi saat-saat senang atau gembira? Apakah ia mudah bersyukur? Apakah dalam bergembira ia tidak berlebihan?
Keempat, bagaimana caranya berinteraksi dengan anda dan orang lain? Apakah mudah berkomunikasi atau sulit? Apakah sering mengumbar janji muluk dan kata pujian? Dalam berbicara apakah siap bermusyawarah atau lebih suka menang sendiri? Apakah ia mudah menghargai orang lain?
Kelima tentang sikap dan pandangannya tentang diri sendiri? Apakah ia terlalu percaya diri? Ataukah percaya diri secara proporsional dan berdasar? Apakah ia minder dan mudah putus asa?
Keenam, tentang sikap terhadap ilmu, apakah berwawasan luas dan mau belajar ataukah lebih suka membatasi minat dan perhatiannya terhadap hal-hal yang sempit?
Ketujuh, bagaimana sikapnya terhadap atasan dan bawahan dirinya? Apakah ia terlalu takut pada atasan? Apakah ia sewenang-wenang terhadap bawahan?
Kedelapan, kenalilah selera-seleranya, apakah ada yang sangat bertentangan dengan anda sendir? Apakah tidak bisa saling memahami perbedaan selera ini?
Kesembilan, kenali keluarganya. Apakah ada hal-hal yang perlu menjadi catatan seperti apakah calon mertua sangat dominan terhadap anaknya ataukah biasa-biasa saja?
Mungkin masih banyak contoh-contoh pertanyaan dan pengamatan yang dapat diujikan kepada calon pasangan. Cari tahulah dengan berbagai cara, baik bertanya langsung, bertanya ke pada orang-orang dekatnya atau mengamati.
Sesudah mengumpulkan berbagai bahan ini, kemudian diskusikanlah dengannya beberapa hal berikut:
1. Bagaimana atau dari mana akan mengambil sumber hukum dalam kebijakan rumahtangga? Darimana sumber hukumnya dan bagaimana proses penetapan keputusannya?
2. Bagaimana cara menghadapi perbedaan pendapat dan ke mana mencari penengah?
Diskusikan juga berbagai hal kecil namun mungkin penting, misal akan tinggal di mana kelak? Dari mana sumber penghasilan keluarga? Apakah ada diantara anda berdua yang masih ingin melanjutkan sekolah? Apakah istri kelak akan bekerja? Bagaimana mengasuh anak? Dan masih banyak lagi, namun pilihlah yang bagi anda lebih penting.
Jika ha-hal ini sudah dibicarakan dan ternyata tak ada masalah atau perbedaan pendapat yang terlalu tajam antara anda berdua, barulah dapat dikatakan Insya Allah anda berdua cocok. Wallahua’lam (SAN 02112008)

oleh Siti Aisyah Nurmi
 
posted by auzi at 12.25 | 0 comments

''Maaf Akhi, bukannya saya tidak menghormati permintaan akhi. Tapi
rasanya kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan
semoga akhi menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya.''
Amboi, bagaimana rasanya bila kalimat di atas dialami oleh para ikhwan?
Bisa saja langit terasa runtuh, hati berkeping-keping. Sang pujaan hati
yang kita harapkan menjadi teman setia dalam mengarungi perjalanan hidup
menampik khitbah kita. Segala asa yang pernah coba ditambatkan akhirnya
karam. Cinta suci sang ikhwan bertepuk sebelah tangan.
Ya drama kehidupan menuju meghligai pelaminan memang beragam. Ada yang
menjalaninya dengan smooth, amat mulus, tapi ada yang berliku penuh onak
duri, bahkan ada yang pupus ditengah perjalanan karena cintanya tak
bertaut dalam maghligai pernikahan.
Ini bukan saja dialami oleh para ikhwan, kaum akhwat pun bias
mengalaminya. Bedanya, para ikhwan mengalami secara langsung karena
posisi mereka sebagai subyek/pelaku aktif dalam proses melamar. Sehingga
getirnya kegagalan cinta �seandainya memang terasa getir- langsung
terasa. Sedangkan kaum akhwat perasaanya lebih aman tersembunyi karena
mereka umumnya berposisi pasif, menunggu pinangan. Tapi manakala sang
ikhwan yang didamba memilih berlabuh dihati yang lain kekecewaan juga
merebak dihati mereka.
Mengambil sikap
Ikhwan dan akhwat rahimakumullah, siapapun berhak kecewa manakala
keinginan dan cita-citanya tidak tercapai. Perasaan kecewa adalah bagian
dari gharizatul baqa' (naluri mempertahankan diri) yang Allah ciptakan
pada manusia. Dengannya, manusia adalah manusia bukan onggokan daging
dan tulang belulang. Ia juga bukan robot yang bergerak tanpa perasaan,
tapi manusia memiliki aneka emosi jiwa. Ia bisa bergembira tapi juga
bisa kecewa.
Emosi negatif, seperti perasaan kecewa akibat tertolak, bukannya tanpa
hikmah. Kesedihan akan memperhalus perasaan manusia, bahkan akan
meningkatkan kepekaannya pada sesama. Bila dikelola dengan baik maka
akan semakin matanglah emosi yang terbentuk. Tidak meledak-ledak lalu
lenyap seketika. Ia akan siap untuk kesempatan berikutnya; kecewa
ataupun bergembira. Jadi mengapa tidak bersyukur manakala kita ternyata
bisa kecewa? Karena berarti kita adalah mansia seutuhnya.
Kegagalan meraih cinta juga bukan pertanda bencana. Tapi akan memberikan
pelajaran beharga pada manusia. Seorang filsuf bernama John Charles
Salak mengatakan : Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua; yaitu
mereka yang berfikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka
yang melakukan kegagalan dan tak penah memikirkannya.
Karenanya kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru awal dari
segala-galanya. Meski terdengar klise tapi ada benarnya; ambillah
pelajaran dari sebuah kegagalan lalu buatlah perbaikan diri. Tentu saja
itu dengan tetap mengimani qadla Allah SWT.
Agar kegagalan mengkhitbah tidak menjadi petaka, maka ikhwan dan akhwat,
persiapkanlah diri sebaik-baiknya, ada beberapa langkah yang bisa diambil:
Percayai qadla
Manusia tidak suka dengan penolakan. Ia ingin semua keinginannya selalu
terpenuhi. Padahal ditolak adalah salah satu bagian dari kehidupan kita.
Kata seorang kawan, hidup itu adakaanya tidak bisa memilih. Perkataan
itu benar adanya, cobalah kita renungkan, kita lahir kedunia ini tanpa
ada pilihan; terlahir sebagai seorang pria atau wanita, berkulit coklat
atau putih, berbeda suku bangsa, dsb. Demikian pula rezeki dan jodoh
adalah hal yang berada di luar pilihan kita. Man propose, god dispose.
Kita hanya bisa menduga dan berikhtiar, tapi Allah jua yang menentukan.
�Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya
di dalam rahim ibunya selama 40 hari kemudian menjadi �alaqah kemudian
menjadi janin, lalu Allah mengutus malaikat dan diperintahkannya dengan
empat kata dan dikatakan padanya: �tulislah amalnya, rizkinya dan
ajalnya.� (HR.Bukhari)
Maka kokohkanlah keimanan saat momen itu terjadi pada kita. Yakinilah
skenario Allah tengah berlangsung, dan jadilah penyimak yang baik dengan
penuh sangka yang baik padaNya. Tanamkan dalam diri kita �Allah Mahatahu
yang terbaik bagi hamba-hambaNya' .
Jangan biarkan kekecewaan menggerogoti keimanan kita kepadaNya. Apalagi
dengan terus menanamkan prasangka buruk padaNya. Segerahlah sadar bahwa
ini adalah ujian dari Allah . akankah kita menerima qadla-Nya atau
merutuknya?
Dengan demikian, fragmen yang pahit dalam kehidupan InsyaAllah akan
memperkuat keyakinan kita bahwa Allah sayang pada kita. Demikian
sayangnya, sampai-sampai Allah tidak rela menjodohkan kita dengan si
fulan yang kita sangka sebagai pelabuhan cinta kita.
Bersiap untuk cinta dan bahagia
�Seandainya ukhti menjadi istri saya, saya berjanji akan membahagiakan
ukhti,� demikian ungkapan keinginan para ikhwan terhadap akhwat yang
akan mereka lamar. Puluhan, mungkin ratusan angan-angan kita siapkan
seandainya si dia menerima pinangan cinta kita. Kita begitu siap untuk
berbahagia dan membahagiakan orang lain. Sama seperti banyak orang yang
ingin menjadi kaya, tenar dan dipuja banyak orang.
Sayang, banyak diantara kita yang belum siap untuk merasa kecewa. Dan
ketika impian itu berakhir kita seperti terhempas. Tidak percaya bahwa
itu bisa terjadi, ada akhwat yang �berani' menolak pinangan kita. Bila
kurang waras, mungkin akan keluar ucapan, �berani-beraninya. ..� atau
�apa yang kurang dari saya.....�
Akhi dan ukhti, jangan biarkan angan-angan membuai kita dan membuat diri
menjadi tulul amal, panjang angan-angan. Sadarilah semakin tinggi angan
membuai kita, semakin sakit manakala tak tergapai dan terjatuh. Ambillah
sikap simbang setiap saat; bersiap diri menjadi senang sekaligus kecewa.
Sikap itu akan menjadi bufferl penyangga mental kita, apapun yang
terjadi kelak.
Manakala kenyataan pahit yang ada di depan mata, sang akhwat menolak
khitbah kita atau sang ikhwan memilih �bunga' yang lain, hati ini tidak
akan tercabik. Yang akan datang adalah keikhlasan dan sikap lapang dada.
Demikian pula saat ia menjatuhkan pilihannya pada kita, hati ini akan
bersyukur padaNya karena doa terkabul, keinginan menjadi kenyataan.
� Menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya urusannya seluruhnya
baik dan tidaklah hal itu dimiliki oleh seseorang kecuali bagi seorang
mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur maka hal itu baik baginya, dan
jika menderita kesusahan ia bersabar maka hal itu lebih baik baginya.�
(HR. Muslim)
Bukan Aib
Ditolak? Emang enak! Wah, mungkin demikian pikiran sebagian ikhwan.
Malu, kesal dan kecewa menjadi satu. Tapi itulah bentuk �perjuangan'
menuju pernikahan. Kita tidak akan pernah tahu apakah sang pujaan
menerima atau menolak kita, kecuali setelah mengajukan pinangan padanya.
Manakala ditolak tidak usah malu, bukan cuma kita yang pernah ditolak,
banyak ikhwan yang �senasib' dan �sependeritaan' .
Saatnya berjiwa besar ketika ditolak. Tidak perlu merasa terhina.
Demikian pula saat banyak orang tahu hal itu. Bukankah apa yang kita
lakukan adalah sesuatu yang benar? Mengapa mesti malu.
�Kita mungkin takkan Bahagia'
Marah-marah karena lamaran tertolak? Mendoakan keburukan pada ikhwan
yang tidak mencintai kita? Itu bukan sikap seorang muslim/muslimah yang
baik. Tidak ada yang bisa melarang seseorang untuk jatuh cinta maupun
menolak cinta. Sebagaimana kita punya hak untuk mencintai dan melamar
orang, maka ada pula hak yang diberikan agama pada orang lain untuk
menolak pinangan kita. Bahkan dalam kehidupan rumah tangga pun seorang
suami dan istri diberikan hak oleh Allah SWT. Untuk membatalkan sebuah
ikatan pernikahan.
Mengapa ada hak penolakan cinta yang diberikan Allah pada kita? Bahkan
dalam pernikahan ada pintu keluar �perceraian'? jawabannya adalah sangat
mungkin manusia yang jatuh cinta atau setelah membangun rumah tangga,
ternyata tak kunjung memperoleh kebahagiaan ( al hanaah ) dari
pasangannya, maka tiada guna mempertahankan sebuah bahtera rumah tangga
bila kebahagiaan dan ketentraman tak dapat diraih. Wallahu'alam bi ash
shawab
�Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi
dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.� (
Al-Baqarah[2] :229 )
Berpikir positiflah manakala cinta tak berbalas. Belum tentu kita
memperoleh kebahagiaan bila hidup bersamanya. Apa yang kita pandang baik
secara kasat mata, belum tentu berbuah kebaikan di kemudian hari.
Adakalanya keinginan untuk hidup bersama orang yang kita idamkan begitu
menggoda. Tapi bila ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan, untuk
apa semua kita pikirkan lagi? Allah Maha Pangatur, ia pasti akan
mempertemukan kita dengan orang yang memberikan kebahagiaan seperti yang
kita angankan. Bahkan mungkin lebih dari yang kita harapkan.
Be positive thinking, suatu hari kelak ketika antum telah menikah dengan
orang lain �bukan dengan si dia yang antum idamkan- niscaya antum takjub
dengan kebahagiaan yang antum rasakan. Percayalah banyak orang yang
telah merasakan hal demikian.
�Saya tak mungkin berbahagia tanpanya'
ini adalah perangkap, ia akan memenjarakan kita terus menerus dalam
kekecewaan. Perasaan ini juga menghambat kita untuk mendapatkan
kesempatan berbahagia dengan orang lain. Mereka yang terus menerus
mengingat orang yang pernah menolaknya, dan masih terbius dengan
angan-angannya sebenarnya tengah menyiksa perasaan mereka sendiri dan
menutup peluang untuk bahagia.
Mari berpikir jernih, untuk apa memikirkan orang lain yang sudah
menjalani kehidupannya sendiri? Jangan biarkan orang lain membatalkan
kebahagiaan kita. Diri kitalah yang bisa menciptakannya sendiri. Untuk
itu tanamkan optimisme dan keyakinan terhadap qadla Allah SWT. Insya
Allah, akan ada orang yang membahagiakan kita kelak.
Cinta membutuhkan waktu
�maukah ukhti menjadi istri saya? Saya tunggu jawaban ukhti dalam waktu
1 X 24 jam!� Masya Allah, cinta bukanlah martabak telor yang bisa di
tunggu waktu matangnya. Ia berproses, apalagi berbicara rumah tangga,
pastinya banyak pertimbangan- pertimbangan yang harus dipikirkan. Ada
unsur keluarga yang harus berperan. Selain juga ada pilihan-pilihan yang
mungkin bisa diambil.
Jadi harap dipahami bila kesempatan datangnya cinta itu menunggu waktu.
Seorang akhwat yang akan dilamar �contoh extrim pada kasus diatas- bisa
jadi tidak serta merta menjawab. Biarkanlah ia berpikir dengan jernih
sampai akhirnya ia melahirkan keputusan. Jadi cara berpikir seperti di
atas sebenarnya lebih cocok dimiliki anggota tim SWAT ketimbang orang
yang berkhitbah
Ideal bagus, Tapi realistik adalah sempurna
�Suami yang saya dambakan adalah yang bertanggungjawab pada keluarga,
giat berdakwah dan rajin beribadah, cerdas serta pengertian, penyayang,
humoris, mapan dan juga tampan.� Itu mungkin suami dambaan Anda duhai
Ukhti . tapi jangan marah bila saya katakan bahwa seandainya kriteria
itu adalah harga mati yang tak tertawar, maka yang ukhti butuhkan
bukanlah seorang ikhwan melainkan kitab-kitab pembinaan. Kenyataannya
tidak ada satupun lelaki didunia ini yang bisa memenuhi semua keinginan
kita. Ada yang mapan tapi kurang rupawan, ada yang rajin beribadah tapi
kurang mapan, ada yang giat dakwah dakwah tapi selalu merasa benar
sendiri, dsb.
Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki kriteria bagi calon
suami/istri kita, lantas membuat kita mengubah prinsip menjadi �yang
penting akhwat� atau �yang penting ikhwan�. Tapi realistislah, setiap
menusia punya kekurangan � sekaligus kelebihan. Mereka yang menikah
adalah orang-orang yang berani menerima kekurangan pasangannya, bukan
orang-orang yang sempurna. Tapi berpikir realistis terhadap orang yang
akan melamar kita, atau yang akan kita lamar, adalah kesempurnaan
Maka doa kita kepada Allah bukanlah,�berikanlah padaku pasangan yang
sempurna� tetapi �ya Allah, karuniakanlah padaku pasangan yang baik bagi
agamaku dan duniaku.�
Kekuatan Ruhiyah
Percaya diri itu harus, tapi overselfconfidence adalah kesalahan. Jangan
terlalu percaya diri akhi bahwa lamaran antum diterima. Jangan juga
terlalu yakin ukhti, bahwa sang pujaan akan datang ke rumah anti.
Perjodohan adalah perkara gaib. Tanpa ada seorang pun yang tahu kapan
dan dengan siapa kita akan berjodoh. Cinta dan berjodohan tidak mengenal
status dan identifikasi fisik. Bukan karena ukhti cantik maka para
ikhwan menyukai ukhti. Juga bukan karena akhi seorang hamalatud da'wah
lalu setiap akhwat mendambakannya.
Kita tidak bisa mengukur kebahagiaan orang lain menurut persepsi kita.
Bukankah sering kita melihat seseorang yang menurut kita �luar biasa�
berjodoh dengan yang �biasa-biasa' . Seperti seringnya kita melihat
pasangan yang ganteng dan cantik, populer tapi kemudian berpisah. Inilah
rahasia cinta dan perjodohan, tidak bisa terukur dengan ukuran-ukuran
manusia
Maka landasilah rasa percaya diri kita dengan sikap tawakal kepada
Allah. Kita berserah diri kepadaNya akan keputusan yang ia berikan.
Jauhilah sikap takkabur dan sombong. Karena itu semua hanya akan membuat
diri kita rendah dihadapan Allah dan orang lain. Intinya saya bermaksud
mengatakan �jangan ke-ge-er-an' dengan segala title dan atribut yang
melekat pada diri kita.
Beri cinta kesempata (lagi)
�..........dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya
tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.� ( QS.
Yusuf[12]:87 )
bersedih hati karena gagal bersanding dengan dambaan hati wajar adanya.
Tapi bukan alasan untuk menyurutkan langkah berumah tangga. Dunia ini
luas, demikian pula dengan orang-orang yang mencintai kita. Kegagalan
cinta bukan berarti kita tidak berhak bahagia atau tidak bisa meraih
kebahagiaan. Bila hari ini Allah belum mempertemukan kita dengan orang
yang kita cintai, insyaAllah ia akan datang esok atau lusa, atau
kapanpun ia menghendaki, itu adalah bagian dari kekuasaanNya
cinta juga berproses. Ia membutuhkan waktu. Ia bisa datang dengan cepat
tak terduga atau mungkin tidak seperti yang kita harapkan. Ada orang
yang dengan cepat berumah tangga, tapi ada pula yang merasakan segalanya
berjalan lambat, namun tidak pernah ada kata terlambat untuk merasakan
kebahagiaan dalam pernikahan. Beri kesempatan diri kita untuk kembali
merasakan kehangatan cinta. � love is knocking outside the door.' Kata
musisi Tesla dalam senandung love will find a way. Tidak pernah ada kata
menyerah untuk meraih kebahagiaan dalam naungan ridhoNya. Yang pokok,
ikhwan atau akhwat yang kelak akan menjadi pasangan kita adalah mereka
yang dirihoi agamanya.
�jika melamar kepada kalian seseorang yang kalian ridho agamanya dan
akhlaknya maka nikahkanlah ia, bila kalian tidak melakukannya maka akan
ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata� (HR. Turmudzi)
� Wanita dinikahi karena satu dari tiga hal; dinikahi karena hartanya,
dinikahi karena kecantikannya, dinikahi karena agamanya. Maka pilihlah
yang memiliki agama dan akhlak (mulia) niscaya selamat dirimu.� (HR.Ahmad)

Oleh: Iwan Yanuar
 
posted by auzi at 12.15 | 0 comments

Pernikahan atau perkawinan membuka tabir rahasia,

Suami yang menikahi kamu,

Tidaklah semulia Muhammad

Tidaklah setaqwa Ibrahim

Pun tidak setabah Ayyub

Ataupun segagah Musa

Apalagi setampan Yusuf

Justru suamimu adalah pria akhir zaman,

Yang punya cita-cita membangun keturunan yang sholeh...



Pernikahan atau perkawinan mengajar kita kewajiban bersama

Suami menjadi pelindung, kamu penghuninya

Suami adalah nahkoda kapal, kamu navigatornya

Suami bagaikan balita yang nakal, kamu penuntun kenakalannya

Saat suami menjadi raja, kamu nikmati anggur singgasananya

Seketika suami menjadi bisa, kamulah penawar obatnya

Seandainya suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatinya



Pernikahan atau perkawinan mengajarkan kita perlunya Iman dan Takwa

Untuk belajar meniti sabar dan redha

Karena memiliki suami yang tak segagah mana,

Justru kamu akan tersentak dari alpa

Kamu bukanlah Khadijah, yang begitu sempurna dalam menjaga

Pun bukanlah Hajar, yang begitu setia dalam sengsara

Kamu Cuma wanita akhir zaman, yang berusaha jadi sholehah...

dari blog sebelah
 
posted by auzi at 11.48 | 0 comments
Januari 22, 2009

"Dia ikhwan ya? Tapi kok kalau bicara sama akhwat dekat sekali???," tanya seorang akhwat kepada temannya karena ia sering melihat seorang aktivis rohis yang bila berbicara dengan lawan jenis, sangat dekat posisi tubuhnya.

"Mbak, akhwat yang itu sudah menikah? Kok akrab sekali sama ikhwan itu?," tanya sang mad'u kepada murabbinya karena ia sering melihat dua aktivis rohis itu kemana-mana selalu bersama sehingga terlihat seperti pasangan yang sudah menikah.

"Duh... ngeri, lihat itu... ikhwan-akhwat berbicaranya sangat dekat......, " ujar seorang akhwat kepada juniornya, dengan wajah resah, ketika melihat ikhwan-akhwat di depan masjid yang tak jauh beda seperti orang berpacaran.

"Si fulan itu ikhwan bukan yah? Kok kelakuannya begitu sama akhwat?," tanya seorang akhwat penuh keheranan.

Demikianlah kejadian yang sering dipertanyakan. Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat masih saja terjadi dan hal itu bisa disebabkan karena:
1. Belum mengetahui batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat.
2. Sudah mengetahui, namun belum memahami.
3. Sudah mengetahui namun tidak mau mengamalkan.
4. Sudah mengetahui dan memahami, namun tergelincir karena lalai.

Dan bisa jadi kejadian itu disebabkan karena kita masih sibuk menghiasi penampilan luar kita dengan jilbab lebar warna warni atau dengan berjanggut dan celana mengatung, namun kita lupa menghiasi akhlak. Kita sibuk berhiaskan simbol-simbol Islam namun lupa substansi Islam. Kita berkutat menghafal materi Islam namun tidak fokus pada tataran pemahaman dan amal.

Rasulullah s.a.w. contoh akhlak terbaik

Sesungguhnya panggilan 'ikhwan' dan 'akhwat' adalah panggilan persaudaraan. 'Ikhwan' artinya adalah saudara laki-laki, dan 'akhwat' adalah saudara perempuan. Namun di ruang lingkup aktivis rohis, ada dikhotomi bahwa gelar itu ditujukan untuk orang-orang yang berjuang menegakkan agama-Nya, yang islamnya shahih, syamil, lurus fikrahnya dan akhlaknya baik. Atau bisa dikonotasikan dengan jamaah. Maka tidak heran bila terkadang dipertanyakan ke-'ikhwanan' -nya atau ke-'akhwatan' -nya bila belum bisa menjaga batas-batas pergaulan (hijab) ikhwan-akhwat.

Aktivis sekuler tak lagi segan

Seorang ustadz bercerita bahwa ada aktivis sekuler yang berkata kepadanya, "Ustadz, dulu saya salut pada orang-orang rohis karena bisa menjaga pergaulan ikhwan-akhwat, namun kini mereka sama saja dengan kami. Kami jadi tak segan lagi."

Ungkapan aktivis sekuler di atas dapat menohok kita selaku jundi-jundi yang ingin memperjuangkan agama-Nya. Menjaga pergaulan dengan lawan jenis memang bukanlah hal yang mudah karena fitrah laki-laki adalah mencintai wanita dan demikian pula sebaliknya. Hanya dengan keimanan yang kokoh dan mujahadah sajalah yang membuat seseorang dapat istiqomah menjaga batas-batas ini.

Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat

Berikut ini adalah pelanggaran- pelanggaran yang masih sering terjadi:

1. Pulang Berdua
Usai rapat acara rohis, karena pulang ke arah yang sama maka akhwat pulang bersama di mobil ikhwan. Berdua saja. Dan musik yang diputar masih lagu dari Peterpan pula ataupun lagu-lagu cinta lainnya.

2. Rapat Berhadap-Hadapan
Rapat dengan posisi berhadap-hadapan seperti ini sangatlah 'cair' dan rentan akan timbulnya ikhtilath. Alangkah baiknya - bila belum mampu menggunakan hijab - dibuat jarak yang cukup antara ikhwan dan akhwat.

3. Tidak Menundukkan Pandangan (Gadhul Bashar)
Bukankah ada pepatah yang mengatakan, "Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati". Maka jangan kita ikuti seruan yang mengatakan, "Ah, tidak perlu gadhul bashar, yang penting kan jaga hati!" Namun, tentu aplikasinya tidak harus dengan cara selalu menunduk ke tanah sampai-sampai menabrak dinding. Mungkin dapat disiasati dengan melihat ujung-ujung jilbab atau mata semu/samping.

4. Duduk/ Jalan Berduaan
Duduk berdua di taman kampus untuk berdiskusi Islam (mungkin). Namun apapun alasannya, bukankah masyarakat kampus tidak ambil pusing dengan apa yang sedang didiskusikan karena yang terlihat di mata mereka adalah aktivis berduaan, titik. Maka menutup pintu fitnah ini adalah langkah terbaik kita.

5. "Men-tek" Untuk Menikah
"Bagaimana, ukh? Tapi nikahnya tiga tahun lagi. Habis, ana takut antum diambil orang." Sang ikhwan belum lulus kuliah sehingga 'men-tek' seorang akhwat untuk menikah karena takut kehilangan, padahal tak jelas juga kapan akan menikahnya. Hal ini sangatlah riskan.

6. Telfon Tidak Urgen
Menelfon dan mengobrol tak tentu arah, yang tak ada nilai urgensinya.

7. SMS Tidak Urgen
Saling berdialog via SMS mengenai hal-hal yang tak ada kaitannya dengan da'wah, sampai-sampai pulsa habis sebelum waktunya.

8. Berbicara Mendayu-Dayu
"Deuu si akhiii, antum bisa aja deh....." ucap sang akhwat kepada seorang ikhwan sambil tertawa kecil dan terdengar sedikit manja.

9. Bahasa Yang Akrab
Via SMS, via kertas, via fax, via email ataupun via YM. Message yang disampaikan begitu akrabnya, "Oke deh Pak fulan, nyang penting rapatnya lancar khaaan. Kalau begitchu.., ngga usah ditunda lagi yah, otre deh :)." Meskipun sudah sering beraktivitas bersama, namun ikhwan-akhwat tetaplah bukan sepasang suami isteri yang bisa mengakrabkan diri dengan bebasnya. Walau ini hanya bahasa tulisan, namun dapat membekas di hati si penerima ataupun si pengirim sendiri.

10. Curhat
"Duh, bagaimana ya...., ane bingung nih, banyak masalah begini ... dan begitu, akh...." Curhat berduaan akan menimbulkan kedekatan, lalu ikatan hati, kemudian dapat menimbulkan permainan hati yang bisa menganggu tribulasi da'wah. Apatah lagi bila yang dicurhatkan tidak ada sangkut pautnya dengan da'wah.

11 Yahoo Messenger/Chatting Yang Tidak Urgen
YM termasuk fasilitas. Tidaklah berdosa bila ingin menyampaikan hal-hal penting di sini. Namun menjadi bermasalah bila topik pembicaraan melebar kemana-mana dan tidak fokus pada da'wah karena khalwat virtual bisa saja terjadi.

12. Bercanda ikhwan-akhwat
"Biasa aza lagi, ukhtiii... hehehehe," ujar seorang ikhwan sambil tertawa. Bahkan mungkin karena terlalu banyak syetan di sekeliling, sang akhwat hampir saja mencubit lengan sang ikhwan.

Dalil untuk nomor 1-5:
a. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan." (HR.Ahmad)

b. Allah SWT berfirman, "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, 'Hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. ....." (QS.24: 30)

c. Allah SWT berfirman, "Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. ....." (QS.24: 31)

d. Rasulullah SAW bersabda, "Pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, barangsiapa menundukkannya karena Allah, maka akan dirasakan manisnya iman dalam hatinya."

e. Rasulullah saw. Bersabda, "Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan yang satu dengan pandangan yang lain. Engkau hanya boleh melakukan pandangan yang pertama, sedang pandangan yang kedua adalah resiko bagimu." (HR Ahmad)

Dalil untuk nomor 6-12:
"... Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di dalam hatinya..." (Al Ahzab: 32)

Penutup

Di dalam Islam, pergaulan laki-laki dan perempuan sangatlah dijaga. Kewajiban berjillbab, menundukkan pandangan, tidak khalwat (berduaan), tidak ikhtilath (bercampur baur), tidak tunduk dalam berbicara (mendayu-dayu) dan dorongan Islam untuk segera menikah, itu semua adalah penjagaan tatanan kehidupan sosial muslim agar terjaga kehormatan dan kemuliaannya.

Kehormatan seorang muslim sangatlah dipelihara di dalam Islam, sampai-sampai untuk mendekati zinanya saja sudah dilarang. "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al Isra:32).

Pelanggaran di atas dapat dikategorikan kepada hal-hal yang mendekati zina karena jika dibiarkan, bukan tidak mungkin akan mengarah pada zina yang sesungguhnya, na'udzubillah. Maka, bersama-sama kita saling menjaga pergaulan ikhwan-akhwat. Wahai akhwat...., jagalah para ikhwan. Dan wahai ikhwan...., jagalah para akhwat. Jagalah agar tidak terjerumus ke dalam kategori mendekati zina.

"Ya Rabbi..., istiqomahkanlah kami di jalan-Mu. Jangan sampai kami tergelincir ataupun terkena debu-debu yang dapat mengotori perjuangan kami di jalan-Mu, yang jika saja Engkau tak tampakkan kesalahan-kesalahan itu pada kami sekarang, niscaya kami tak menyadari kesalahan itu selamanya. Ampunilah kami ya Allah...... Tolonglah kami membersihkannya hingga dapat bercahaya kembali cermin hati kami. Kabulkanlah ya Allah... "
 
posted by auzi at 11.24 | 0 comments

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS.24:32)
Berbicara tentang menikah, sangat sensitif bagi ikhwah fillah yang sedang menunggu belahan hatinya datang. Sementara umur semakin bertambah, keinginan untuk menikahpun sudah semakin tak bisa ditahan lagi. Apalagi belahan hati itu tidak juga kunjung datang menyapa, sudah tentu hati hanya resah gelisah menantinya.
Jodoh memang rahasia Allah swt, tetapi kita tetap dituntut berdo’a dan ikhtiar agar Allah berkenan mendekatkan jodoh kita disaat hati rindu menikah. Memang selalu menjadi bahasan yang menarik berbicara tentang menikah. Alaa kulli hal, kita tetap selalu istiqomah dijalanNya, semoga Allah memberikan kita semua jodoh yang sebaik-baiknya.
Banyak hambatan dan halangan untuk menuju sebuah kebaikan itu, ada aral melintang yang kita harus siap menghadapinya. Jangan sampai kita kalah sebelum berperang, karena takut akan halangan itu kita lantas sama sekali tidak mau mencoba melakukan kabaikan itu. Begitu juga dengan menikah, sebuah kebaikan yang jika kita belum bisa menunaikannya berarti kita belum bisa menunaikan islam ini secara kaffah(menyeluruh), karena banyak amalan-amalan yang tidak bisa kita kerjakan selain dengan menikah terlebih dahulu, seperti memberi nafkah isteri dan anak, mendidik isteri dan anak, memberikan hak isteri dan anak, pahala jima’, menghapus dosa-dosa yang tiada bisa dihapus kecuali dengan peluh keringat mencari nafkah untuk keluarganya, dan masih banyak lagi amalan yang tidak bisa kita kerjakan sebelum kita terlebih dahulu menikah, atau apakah kita mau menjadi hamba yang kehilangan kesempatan berbuat kebaikan?

Hidup ini pun sebenarnya belum hidup yang senyatanya bagi mereka yang belum menikah. The real life adalah hidup dimana setelah kita menikah. Dimana semakin hari beban hidup kita semakin bertambah, semakin hari usaha kita semakin keras karena semakin bertambah amanah yang kita emban, seperti bertambahnya jundi-jundi dari rahim isteri kita, berarti kita juga harus siap menambah nafkah kita untuk keluarga, dan itu berarti kita harus berusaha lebih keras lagi, berjuang lebih keras lagi. Kita sekarang bisa saja makan dimanapun dan kapanpun dengan makanan seadanya, namun ketika kita sudah menikah maka hal ini tidak bisa lagi seperti dulu, bila kita tidak bisa makan dirumah, mungkin sebagian dari kita harus memberi tahu dulu isteri dirumah bahwa malam ini kita tidak bisa makan dirumah, kalau kita tidak memberi tahu barangkali isteri dirumah sudah menyiapkan masakan terenaknya untuk kita, menunggu kita pulang, bahkan sampai larut malam, dan makananpun sudah terlalu dingin hanya karena menunggu kita.
Tetapi sebelum menuju sebuah jenjang pernikahan, kita tentunya sudah mempunyai seseorang yang akan menikah dengan kita, katakan itu calon jodoh kita, kan kalau belum sampai jenjang pernikahan seseorang itu belum bisa dikatakan jodoh kita, jodoh kita ya seseorang yang secara syar’i sah menjadi isteri atau suami kita, bukan begitu? Sebelum mendapatkan seorang yang siap menjadi pasangan hidup kita tentunya kita harus melalu proses perkenalan atau ta’aruf.
Berbicara masalah ta’aruf, bagaimana sebenarnya proses ta’aruf itu? Bagaimana perkenalan yang sesuai syari’at dan yang menyalahi syari’at? Perkenalan itu haruslah tidak melanggar apa yang dilarang oleh Allah swt. Tidak mengundang murkaNya, sebagaimana kita semua tahu tidak ada pacaran sebelum menikah, lantas ada seorang teman yang mempunyai sebuah pertanyaan nyeleneh, ‘bagaimana kalau tidak pacaran tapi punya pacar?’ pertanyaan ini sudah terjawab oleh al Qur’anul Kariim, wa laa takhrobuz zina, janganlah mendekati zina…
Meninjau sejenak tentang pacaran, banyak keluarga di negara barat yang kandas ditengah jalan karena mereka merasa sudah tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga itu, sudah tidak sama-sama cocok lagi, padahal mereka dulu sebelum menikah sudah ada yang sangat lama pacaran, bahkan sampai bertahun-tahun, yang katanya sudah sama-sama saling mengenal, sudah sama-sama sangat cocok, tetapi apa kenyataannya? Sungguh pacaran tidak menjamin bisa menjadi media saling mengenal yang baik, sehingga merasa rumah tangga yang akan dibangun nantinya akan berdiri kokoh.

Selain itu dengan pacaran setelah sekian lama dan telah berkorban hati, tenaga, dan juga fisik, belum menjamin dua hati itu nantinya akan lanjut ke jenjang pernikahan, ada yang hanya untuk senang-senang, meluapkan hawa nafsu setelah puas kemudian ditinggal begitu saja. Tentunya sangat merugikan pihak wanita dalam hal ini, bagaimana nantinya dengan laki-laki yang akan menjadi suaminya kelak? Dia kebagian apa dari diri wanita itu? Sudah tidak ada lagi yang tersisa dari dirinya, ‘afwan-‘afwan, kesucian tangannya telah dinodai laki-laki lain yang menjadi pacarnya dulu, bibirnya sudah tidak lagi virgin, pipinya, dan bahkan ada yang sampai ‘itu’ nya sudah tidak virgin lagi, sudah diserahkan pada pacarnya yang telah lalu, lalu untuk seorang laki-laki yang akan menjadi suami kita kelak disisakan apa? Dan masih banyak lagi dampak buruk dari pacaran.
Yaa ayyuhal ikhwah, marilah kita perteguh lagi iman ini, kita perkuat lagi ketakwaan ini, kita istiqomah dijalanNya, kita bersabar sampai tiba saatnya kita merasakan kemanisan cinta dari belahan hati kita nantinya, cinta yang begitu ranum, dan halal untuk kita. Islam yang mulia ini telah mengatur bagaimana kita mengenal seseorang untuk menjadi pasangan hidup kita, ta’aruf yang banar-benar sesuai dengan syari’at yang mulia ini. Hendaknya orang yang menyampaikan berita itu seorang yang hadatsani tsiqqoh (yang menyampaikan orang yang dipercaya). Lalu apakah hanya sekedar smsan dengan yang bukan mahramnya juga tidak boleh? Coba tanyakan pada diri kalian, jika isteri kalian asyik smsan dengan laki-laki lain, apa kalian tidak cemburu atau bahkan sangat marah? Sungguh Allah lebih cemburu dari kita yaa ikhwah, Allah sangat cemburu jika ada hambaNya yang melebihi dalam bergaul antara sesama laki-laki dan perempuan.
Sebuah matan hadits, jika datang seorang yang kalian ridha agama dan akhlaknya maka nikahkanlah maka jika tidak akan terjadi kerusakan dimuka bumi (al hadits, shahih). Kemudian apa ukuran baik agamanya itu? Apa shalat 5 waktu ke masjid? Sebagian ada yang merasa cukup dengan hal ini, sebagian lagi ada yang ingin lebih, misal dia harus terbiasa ikut kajian, dan ada yang mencukupkan pada hal ini, tapi ada juga yang ingin lebih dari itu, misal dia minimal hafal 15 juz al Qur’an, ada lagi yang merasa kurang, dia harus hafal minimal 100 hadits, ada lagi yang ingin lebih dari itu, dia harus bisa berbahasa arab dengan baik.
Dan semua itu tidak salah, tergantung kita apakah kita ridha dengan agamanya atau itu masih belum cukup bagi kita. Dan sungguh yaa ikhwah, jangan pernah membohongi kata hatimu sendiri, dimana pertama kita sudah sangat ridha dengan agamanya, tapi setelah kita melihat wajahnya tidak sesuai dengan apa yang kita harap, kekayaannya tidak seberapa, apalagi dia dari keturunan yang biasa saja, kemudian kita urung menerimanya, ingatlah hadits Rasulullaah saw, menikah karena agamanya (lidiiniha), maka sungguh kalian akan bahagia, sedangkan karena kecantikannya (lijamaliha), karena hartanya (limaaliha), karena keturunannya (linasabiha), semua itu hanya bersifat duniawi dan sementara. Dan sesungguhnya kesenangan akhirat itu lebih kekal dari pada kesenangan duniawi yang sementara ini.

Lalu apa kerusakan di dunia itu? Wanita yang berumur 20 tahunan biasanya mempunyai standar akan lelaki yang mau menjadi suaminya kelak dengan ‘siapa dia?’, mereka merasa dirinya lebih dari seseorang lelaki yang mengajaknya menikah itu, dia tidak selevel dengan kita, serba banyak kriteria, beberapa pinangan ia tolak karena ia merasa itu tidak pantas untuknya, wanita terewel lah usia segini, sampai-sampai usianya bertambah dan bertambah hingga usia 23an tahun, standar nya pun kini menurun, ‘siapa saya?’, sekarang dia merasa tidak pantas dengan pinangan laki-laki yang datang, sampai berkali-kali karena tidak merasa pantas ia kehilangan harapan, sampai umurnya menjadi 26an tahun, sekarang standar nya pun semakin turun, ‘siapa saja’. Siapa saja yang meminangnya tak masalah, yang penting bisa menikah, belum tentu laki-laki yang akan menjadi suaminya sekarang lebih baik dari yang pernah meminangnya dahulu, tetapi apa mau dikata? Kesempatan itu sudah tiada lagi,sedangkan jika mau menolak lagi, belum tahu ajakan untuk menikah itu kapan lagi akan datang sementara umurnya sudah semakin bertambah, bahkan ada yang sudah berkepala 3 atau mungkin berkepala 4 belum kunjung menikah.
Hendaknya kita juga jangan lupa akan persiapan-persiapan sebelum menikah, seperti siap mental, siap ruhiyah kita, siap menerima amanah, siap ekonomi. Dari pengalaman melihat keluarga seorang teman kuliah yang sudah menikah, mulai dari mainan yang berserakan dilantai, rengekan yang membisingkan telinga, ruangan yang hampir atau bahkan sangat berantakan, anak kecil yang buang air kecil dimana-mana, lalu ia menjadi takut untuk menikah. Yaa ikhwah, jangan takut, semua itu besar pahalanya bagi kita, tengoklah keluarga-keluarga muslim yang telah berhasil membina rumah tangga meski usia mereka masih muda, beban hidup mereka sangat banyak, tetapi mereka mampu membangun segalanya secara bersamaan, seorang aktivis dahwak ia masih kuliah tetapi ia juga telah menikah, hingga ia berhasil wisuda dengan hasil yang memuaskan dan juga ia berhasil mempunyai sebuah keluarga, itu baru luar biasa, berbeda dengan mereka yang bisa kuliah kemudian lulus dengan hasil cumlaude, dan hanya ini yang ia bisa bangun, itu hal yang biasa, karena ia tidak memiliki beban hidup yang lain.

Bahkan ada seorang mahasiswi UGM, seorang aktivis, seorang murabbi, menikah dengan seorang ikhwan satu universitas, karena tidak siap mengemban amanah, takut menerima amanah, sampai ia berani berlaku nuzyuz pada suaminya, 2 tahun ia tidak bersedia berhubungan badan dengan suaminya, astaghfirullaahal’adziim, sampai seperti itunya, sungguh kasihan kan dengan yang ikhwan itu? Ada yang merasa memiliki 2 orang anak sudah cukup, tapi sungguh lebih baik lagi jika mempunyai 3 orang anak, lebih baik lagi mempunyai 4 orang anak, lebih memuaskan mempunyai 5 orang anak, sangat memuaskan mempunyai 6 orang anak, istimewa mempunyai 7 orang anak, mumtaz mempunyai 8 orang anak, dan seterusnya, hehe, wah penulisnya ingin punya banyak anak ni, aaamiin, alhamdulillah.
Itulah salah satu contoh kenapa the real life itu setelah seseorang menikah, disaat dia dikaruniai seorang anak, dia masih belum begitu berat bebannya, begitu dikaruniai 2 atau 3 atau bahkan 4 orang anak, maka ia semakin berat beban amanahnya, dengan begitu ia akan semakin gigih mencari nafkah, semakin kerja keras menghidup keluarganya dengan peluh keringatnya, inilah yang sebenar-benarnya hidup. Ia mampu melaksana islam secara kaffah, dengan mendidik anak dan isteri, mencari nafkah, dll.
Jika di antaka kalian mampu untuk menikah maka menikahlah, sesungguhnya menikah itu lebih menjaga pandangan dan kemaluan. Pengertian mampu (al ba’ah), dalam kalimat tersebut, ada beberapa pandangan dari ulama. Ada yang mengatakan mampu disini adalah mampu dalam hal berhubungan suami isteri, ada juga ulama yang mengartikan mampu dalam artian mampu dalam hal biaya, tetapi pendapat yang paling kuat kata mampu disini adalah mampu dalam hal memberi nafkah, siap bekerja keras. Lalu apakah lantas kita harus mempunyai pekerjaan tetap? Bukan begitu yaa ikhwah. Sebagian dari kita mengartikan pekerjaan tetap adalah bekerja dengan patokan waktu, dari jam sekian sampai sekian, dikantor, ada juga yang harus memakai seragam kerja, bersepatu, dengan penghasilan tetap setiap bulannya. Banyak diantara saudara kita yang mencari nafkah dengan memanfaatkan setiap kesempatan dan peluang halal yang ada untuk mengais rejeki. Dan alhamdulillah, keluarga mereka jarang kekurangan, kelaparan, sungguh janji Allah itu pasti, barangsiapa yang menikah karena ingin menjaga kehormatan dan kemaluannya dan hanya ingin mengharapkan ridha Allah swt, maka yakinlah Allah akan menjadi penolong kita. Asalkan kita tidak malas-malasan, berpangku tangan, melainkan kita bekerja keras, selalu mencari rejeki yang halal untuk keluarga kita, pastilah Allah akan mencukupi kebutuhan hidup kita.

Kita disunnahkan untuk menyegerakan pernikahan, bukan tergesa-gesa ataupun terburu-buru, seperti contoh, seorang ikhwan sehabis mengikuti kajian tentang menikah dini, langsung ia minta tolong pada ustadz yang mengisi, ‘tadz, ana mau menikah, tolong carikan jodoh untuk ana’, wah..ini namanya tergesa-gesa, kurang perhitungan, dan bukan yang dimaksud dalam menyegerakan pernikahan itu. Tentunya kita harus memperhitungkan segalanya, mulai dari kesiapan mental, ruhiyah, menerima amanah, ekonomi, semua ini diperhitungan, tetapi bukan berarti jika semua itu belum siap menurut pandangan kita lantas kita selalu menunda-nunda pernikahan, menunda-nunda untuk melakukan sebuah kebaikan.
Pertimbangan lain tentang sekufu’, ada yang menganggap sekufu’ itu harus selevel pendidikannya, harus sama nasabnya, harus sederajat kedudukannya, kekayaannya, dan sungguh ini hanya akan mempersulit diri kalian sendiri untuk menikah. Pendapat yang paling kuat dari para ulama salafush shalih adalah sekufu’ dalam hal diinnya, agamanya. Dia haruslah sama akidahnya, sama-sama mengimani Allah dan Rasul saw. Sama-sama berakhlak baik, beriman dan bertakwa pada Allah swt.
Kemudian ada yang bertanya, bagaimana kalau berbeda manhaj? Kita tahu kalau manhaj adalah hal yang prinsip, tentunya kita harus lebih memikirkan bagaimana kalau calon yang datang kepada kita berbeda manhaj? Pertama yang harus kita tekankan adalah, sejauh calon itu berpegang pada al Qur’an dan as Sunnah dan memahaminya dengan pemahaman para salafush shalih, dan tidak membahayakan agama kita, maka tidak ada alasan ini menjadikan sebab kita menolaknya. Tapi bila itu sudah tidak sepaham lagi dalam memahami al Qur’an dan as Sunnah, kita yang ingin menghidupkan sunnah dalam rumah kita tetapi ia lebih suka menghidupkan bid’ah maka ini bisa menjadi alasan syar’i kita tidak menerimanya, karena tentu saja ini membahayakan agama kita.
Akhirnya, dengan menikah kita akan bisa melaksanakan diin ini secara kaffah, sebagaimana dalam firmanNya,

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS.2:208)

Kaffah (menyeluruh), tiada lain dengan menikah, kitapun tahu tahu bahwa hidup ini belum lengkap kalau kita belum menikah. Dimulai saat kita menikah maka akan banyak perubahan dalam hidup kita, mulai dari tanggung jawab pada diri sendiri, keluarga, orang tua, mertua, keluarga orang tua, keluarga mertua, itu tanggung jawab seorang pemimpin rumah tangga. Setelah menikah maka isteri menjadi tanggung jawab kita, dan bakti isteri pada orang tuanya menjadi tanggung jawab kita karena isteri sekarang taatnya pada seorang suami, bukan pada orang tua mereka lagi, maka sebagai seorang suami haruslah menjaga hubungan baik antara orang tua dan anaknya dan kerabat-kerabatnya.

Yaa ikhwah, sesuatu yang agung pastilah banyak kendala, halangan, aral melintang untuk menuju kesana, jangan jadikan ini sebagai pelemahmu untuk menuju kebaikan itu, tetapi jadikanlah ini sebagai cambuk hati untuk melecutkan semangat kita menunaikan kebaikan itu.
Lalu bagaimana usaha kita untuk membantu saudara-saudara kita yang mau menikah? Sebuah pertanyaan bagus, teman-teman di kajian ahad pagi masjid kampus UGM, berniat membuat lembaga yang mengurusi masalah ikhwan dan akhwat yang mau menikah, mulai dari mencarikan calon, menyediakan media perkenalan, bahkan menyediakan tempat untuk menikah lengkap dengan hidangannya. Ada usulan bagaimana kalau lembaga itu dinamakan Lajnah Sakinah? Sebuah usulan yang bagus. Menyusul ada seorang ikhwan yang sehabis kajian ahad pagi, begitu melihat seorang akhwat ditempat parkir masjid kampus UGM, meminta tolong pada panitia kajian ahad padi MasKam UGM, ‘akh, tolong ana dicarikan informasi jama’ah akhwat kajian ahad pagi yang motornya jenis X bernomor AB XXXX XX.’ Gleg, semangat banget ni ikhwan, sampai sebegitunya. Lha mau gimana lagi? Apa harus mengikuti kemana akhwat itu pulang, langsung meminang ke rumahnya? Wah..keberanian kalau ini, hehe…ya namanya usaha.
Pesan penulis, tiada lagi alasan bagi kita mau menikah tapi masih kuliah, mau menikah tapi belum punya pekerjaan tetap, mau menikah tapi takut punya anak, mau menikah takut masalah-masalah rumah tangga, mau menikah tapi belum mendapat ijin orang tua, mau menikah tapi belum ada biaya, mau menikah tapi..dan tapi…dan tapi…lalu…tapi kapan mau menikah? Menikah Tanpa Tapi menjadikan kita mukmin sejati, percaya deh ma pertolongan Allah, siapa lagi yang lebih menepatinya janjinya selain Allah?

Ayo…yang sudah punya calon jodoh segerakan menikah, jangan tapi-tapi terus, yang belum punya calon jodoh ayo usaha minta dicarikan, jangan pasrah saja. Jodoh tidak datang begitu saja,tapi menuntut usaha kita. Sungguh ridha Allah lebih dari segalanya daripada yang lainnya. Jangan kita menodai kesucian hati dengan wanita atau laki-laki yang notabene akan menikah dengan kita kelak, asyik berkomunikasi dengannya, ngobrol, diskusi bareng, malu dong kita memberikan cinta pada orang yang belum berhak. Ada seseorang kelak yang berhak menerima cinta kita, entah dibelahan bumi mana ia berada kita tidak tahu, tapi percayalah Allah telah menyediakan jodoh yang sesuai dengan kita. Jika baik kita baik dimata Allah, dekat denganNya, menjaga perintahNya dan menjauhi laranganNya, pastilah jodoh yang diberikanNya kelak juga baik dimata Allah, tetapi jangan harap Allah akan memberikan kita jodoh yang baik jika kita telah membuatNya marah, murka, menjauh dariNya dengan menodai kesucian hati, dengan berpacaran, melanggar apa yang dilarangNya, asyik ber sms an dengan yang bukan mahramnya, asyik ber YM dengan yang bukan mahramnya, dan yang sejenisnya, pastilah Allah murka dengan sikap kita.

Semoga ini menjadi amal baik penulis, sebagai bukti bahwa penulis telah menyeru pada kebaikan, semoga pahala ditetapkan atas penulis dan orang-orang yang mengambil kebaikan dengannya. Allaahumma aaamiin…
Setiap kebenaran dari goresan tangan penulis semata-mata dari Allah swt, dan apabila ada salahnya itu semata-mata dari kejahilan diri pribadi penulis.
Dan satu lagi, jangan pernah lupa mengingat Allah, dalam setiap keadaan dan tempat,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS.3:191)

karya Azzam Akhukum Fillah.
 
posted by auzi at 11.20 | 0 comments
Januari 17, 2009

Suatu
ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah
seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya
gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang
yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan
semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan
seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk
mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu
diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..",
ujar Pak tua itu.

"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak
Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk
berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua
orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi
telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan
segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya
gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan
telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu
itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?".

"Segar.", sahut tamunya.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi.
"Tidak", jawab si anak muda.

Dengan
bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu
mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. "Anak
muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam,
tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan
memang akan tetap sama.

"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan
sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan
didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua
akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan
kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk
menampung setiap kepahitan itu."

Pak Tua itu lalu kembali
memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat
itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan
jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu
meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan
kebahagiaan. "

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama
belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan
"segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang
padanya membawa keresahan jiwa.
 
posted by auzi at 09.58 | 0 comments
Desember 13, 2008

22 Desember adalah hari yang diperingati oleh sebagian besar bangsa kita sebagai hari ibu. Hari yang tidak hanya sekadar seremonial belaka, tetapi hari yang setiap harinya harus kita peringati sembari berbakti kepada sang ibunda tercinta.
Yah, Ibu, sosok manusia yang pertama kali menyapa ku ketika hadir di dunia. Sosok wanita, yang tak henti-hentinya berada di belakang saya, di saat saya butuh dukungan dan tempat bersandar. Beliau berada di depan, ketika saya butuh panduan dan bimbingan serta nasihat. .
Ibu, hati ini terasa mekar ketika mendengar suaramu yang mulai serak walaupun hanya di ujung telepon selular. Suaramu yang serak tidak tergantikan dengan suara orang lain walaupun lebih merdu dan indah..
Setahun yang lalu, di saat Ramadhan, kudengar kabar dari adik, kalau engkau mengalami kecelakaan. Gemuruh hati di kala itu begitu tak bisa kukendalikan. Rasa sedih, rasa rindu berkecamuk menjadi satu, sehingga di sujud-sujud ku wajahmu senantiasa hadir. Setahun sebelumnya anakmu ini pamit untuk menjemput rezeki di kota jakarta ini. Hanya tautan komunikasi yang senantiasa menyambung tali silaturahim di antara kita. .
Ketika kabar sedih itu datang, tak kuasa kaki ini ingin melangkah pulang ke rumah, menemuimu, mendekapmu, membantumu…Tapi lagi-lagi suara serak itu bernada “Jangan
Nak, insya Allah mama masih kuat”. Yah, saya tahu di kala itu, engkau sedang menahan perihnya sakit yang engkau derita. Di saat itu, engkau sedang menangis karena rasa sakit yang tak tertahankan, tapi lagi-lagi engkau masih mau menyembunyikannya dari penglihatan anak-anakmu. .
Di saat operasi menjelang, engkau hanya meminta agar didoakan supaya Allah memberikan kekuatan dan kesehatan. Padahal tidak hanya itu, engkau butuh selain itu tapi tidak kau utarakan. Di saat itu, siang dan malam ku hanya dihiasi dengan keingintahuan mendengar kabar dari mu, ibu….
Di saat liburan pun, waktu 10 hari tidaklah cukup untuk menggantikan saat dimana saya tidak bisa berada di sampingmu ketika engkau sakit. Di saat itu pulang kembali ke jakarta adalah waktu-waktu yang sulit. Meninggalkanmu dengan sakit yang masih engkau rasakan.
Ramadhan 1429 Hijriyah, tepat setahun setelah engkau menjalani operasi. Kini kondisimu sudah mulai membaik walaupun rasa sakit itu kadang terasa. .
Ibu, sosok perempuan yang tidak tergantikan oleh siapapun dalam hidupku. Sosok yang senantiasa hadir sebagai solusi di setiap masalah yang lagi saya alami. .
Ibu, engkaulah tempat persinggahan hatiku. Ketika ingin bicara dengan ayah, maka engkaulah orang pertama yang saya beritahu. .
Ibu, engkaulah palabuhan hatiku, di saat kapal harapan ini karam, maka engkaulah tempat berlabuhku. Di saat hidup ini terasa samar dan hampa, maka engkaulah yang menjadi pelita penyemangat. Engkau selalu hadir di saat saya membutuhkan. Engkau senantiasa mendengarkan setiap kesah dari anakmu ini. .
Lautan luas yang membentang di antara kita, bukanlah jarak yang jauh untuk sampainya doa-doa darimu di setiap waktu. .
Maka pantaslah ketika Rasulullah SAW menempatkan sosok ibu sebagai orang pertama yang harus kita cintai, hormati dan sayangi sepanjang waktu..
Teriring doa dan rindu dariku, anakmu yang masih sering nakal, untuk sosok perempuan yang nun jauh disana, tetapi selalu lekat dalam doa dan hati. Semoga Allah memberikan kesehatan dan umur yang berkah bagi engkau, ibuku, pelabuhan hatiku, pelita penyemangatku. .
 
posted by auzi at 14.41 | 0 comments